Langsung ke konten utama
AG·SORA
ERP & Operasional

ERP untuk Kontraktor dan Perusahaan Konstruksi: Biaya Proyek, Subkontraktor, dan Penagihan Progres

Terbit 9 menit bacaDitulis oleh agsora.tech
AG·SORA / BLOGAG·SORAERP & OperasionalERP untuk Kontraktor danPerusahaan Konstruksi: BiayaProyek, Subkontraktor, danPenagihan Progresagsora.tech
Isi artikel

Proyek konstruksi punya karakter yang berbeda dari bisnis dagang atau manufaktur. Setiap proyek adalah unit usaha tersendiri dengan anggaran, jadwal, pemasok, subkontraktor, dan penagihan yang unik. Biaya tersebar di banyak lokasi, banyak pihak terlibat, dan perubahan di lapangan hampir selalu terjadi. Tidak mengherankan jika banyak kontraktor menjalankan proyek dengan campuran spreadsheet, grup chat, dan catatan kertas, lalu baru mengetahui sebuah proyek merugi ketika proyek itu hampir selesai.

ERP untuk kontraktor dan perusahaan konstruksi dirancang untuk menutup celah itu. Artikel ini menjelaskan apa yang berbeda dari ERP konstruksi dibanding ERP umum, modul apa yang paling berdampak, bagaimana mengelola biaya proyek, subkontraktor, dan penagihan bertahap, serta bagaimana menerapkannya tanpa mengganggu proyek yang sedang berjalan.

Ringkasan

  • Unit analisis utama di konstruksi adalah proyek: anggaran, biaya aktual, dan penagihan harus bisa dilihat per proyek dan per pos pekerjaan
  • Pengendalian biaya paling efektif jika anggaran proyek, komitmen pembelian, dan biaya aktual dibandingkan secara berkala, bukan hanya di akhir proyek
  • Subkontraktor, retensi, dan penagihan berdasarkan progres pekerjaan memerlukan alur yang tidak tersedia di ERP dagang standar
  • Perubahan lingkup (variation order) harus dicatat dan disetujui sebelum dikerjakan agar tidak menjadi sengketa biaya
  • Mulailah dari modul biaya proyek dan pembelian, lalu perluas ke subkontraktor, peralatan, dan penagihan secara bertahap

Mengapa konstruksi memerlukan pendekatan khusus

ERP umum berpusat pada barang dan transaksi: beli, simpan, jual. Konstruksi berpusat pada pekerjaan: sebuah proyek dipecah menjadi paket pekerjaan, setiap paket punya volume, harga satuan, dan jadwal, dan nilai yang ditagihkan bergantung pada progres yang sudah dicapai. Material sering dikirim langsung ke lokasi tanpa melewati gudang pusat, tenaga kerja dibayar harian atau borongan, dan peralatan berpindah dari satu proyek ke proyek lain.

Karakter ini menimbulkan beberapa risiko yang khas. Biaya proyek tercecer di banyak tangan: kepala proyek, pelaksana lapangan, bagian pembelian, dan keuangan. Komitmen yang sudah dibuat, misalnya pesanan material atau kontrak subkontraktor, belum tercermin di laporan keuangan sampai tagihan datang. Akibatnya, laporan laba rugi proyek yang dibaca manajemen sering tertinggal beberapa minggu dari kenyataan.

Struktur biaya proyek: fondasi seluruh sistem

Segala sesuatu di ERP konstruksi bertumpu pada struktur biaya proyek. Setiap proyek dibagi menjadi pos pekerjaan, sering mengikuti rencana anggaran biaya (RAB) atau struktur pemecahan pekerjaan. Setiap pos memiliki anggaran untuk material, upah, peralatan, dan subkontraktor. Seluruh biaya yang masuk, baik dari pembelian, kasbon lapangan, upah, maupun alokasi peralatan, harus dikaitkan dengan satu pos pekerjaan.

Anggaran, komitmen, dan biaya aktual

Tiga angka perlu dilihat berdampingan untuk setiap pos: anggaran awal, komitmen yang sudah dibuat, dan biaya yang sudah terjadi. Komitmen mencakup pesanan pembelian dan kontrak subkontraktor yang sudah diterbitkan tetapi belum ditagih. Dengan melihat komitmen, kepala proyek mengetahui bahwa sebuah pos hampir melampaui anggaran sebelum tagihan terakhir datang, bukan setelahnya. Dari sini juga dapat dihitung perkiraan biaya hingga selesai, yaitu biaya aktual ditambah sisa pekerjaan yang diperkirakan.

Jangan menunggu proyek selesai untuk tahu untung atau rugi

Bandingkan anggaran, komitmen, dan biaya aktual per pos minimal sekali sebulan, dan lebih sering untuk proyek berisiko tinggi. Penyimpangan yang terdeteksi pada 30 persen progres jauh lebih mudah dikoreksi daripada yang baru ketahuan pada 90 persen progres.

Dokumen laporan keuangan dan kalkulator di atas meja kerja
Laporan biaya proyek yang tepat waktu lebih berguna daripada laporan sempurna yang terlambat.

Pembelian dan material

Pembelian material untuk proyek konstruksi memiliki dua jalur: barang yang dikirim ke gudang atau gudang proyek, dan barang yang dikirim langsung ke lokasi. Keduanya harus tercatat terhadap proyek dan pos pekerjaan tertentu. Alur persetujuan pembelian yang jelas, misalnya berdasarkan nilai dan sisa anggaran pos, mencegah pembelian di luar rencana. Ketika sebuah permintaan pembelian akan membuat pos melampaui anggaran, sistem dapat memberi peringatan atau meminta persetujuan tambahan.

Untuk pemasok, catat harga yang disepakati, waktu pengiriman, dan kinerja pengiriman sebelumnya. Penilaian yang konsisten, seperti dibahas dalam artikel tentang penilaian vendor dengan ERP, membantu memilih pemasok yang dapat diandalkan di tengah jadwal proyek yang ketat. Material yang tertunda sering lebih mahal dampaknya daripada selisih harga beberapa persen.

Subkontraktor, retensi, dan termin pembayaran

Banyak pekerjaan konstruksi dilakukan subkontraktor. Kontrak subkontraktor biasanya berisi lingkup pekerjaan, nilai kontrak, jadwal termin, dan ketentuan retensi, yaitu bagian pembayaran yang ditahan sampai masa pemeliharaan selesai. ERP konstruksi mencatat kontrak ini sebagai komitmen, lalu setiap termin dibayar berdasarkan progres yang diverifikasi, bukan sekadar tagihan yang masuk.

  • Catat kontrak subkontraktor sebagai komitmen terhadap pos pekerjaan yang relevan
  • Verifikasi progres di lapangan sebelum termin dibayar, dengan foto atau berita acara sebagai bukti
  • Hitung retensi otomatis dan catat sebagai kewajiban yang jatuh tempo pada tanggal tertentu
  • Catat potongan, denda keterlambatan, atau pekerjaan perbaikan yang disepakati
  • Pastikan dokumen pajak dan bukti pembayaran lengkap, terhubung dengan [faktur elektronik dan kepatuhan pajak](/blog/faktur-elektronik-dan-kepatuhan-pajak-dengan-erp)

Penagihan berdasarkan progres kepada pemilik proyek

Dari sisi pendapatan, kontraktor biasanya menagih pemilik proyek per termin berdasarkan persentase progres atau pencapaian milestone yang disepakati dalam kontrak. Jika progres dinilai terlalu tinggi, kontraktor menagih lebih awal tetapi berisiko ditolak atau disengketakan. Jika terlalu rendah, kas tertahan padahal pekerjaan sudah selesai. Karena itu progres perlu diukur dengan cara yang disepakati bersama dan didokumentasikan.

Prinsip penagihan per milestone juga berlaku di bisnis jasa lain, seperti dibahas pada artikel penagihan proyek dan milestone. Di konstruksi, tambahan yang perlu diperhatikan adalah uang muka, retensi yang ditahan pemilik proyek, dan penyesuaian akibat perubahan lingkup. Pastikan tagihan tersusun otomatis dari data progres, sehingga bagian keuangan tidak menyusunnya ulang secara manual setiap bulan.

Perubahan lingkup dan variation order

Hampir tidak ada proyek konstruksi yang selesai persis sesuai rencana awal. Pemilik meminta tambahan, kondisi lapangan berbeda dari gambar, atau spesifikasi material berubah. Setiap perubahan yang memengaruhi biaya atau jadwal sebaiknya dicatat sebagai variation order: apa yang berubah, dampak biaya, dampak waktu, dan persetujuan dari pemilik proyek. Pekerjaan tambahan yang dikerjakan lebih dulu tanpa persetujuan tertulis adalah sumber sengketa yang sangat umum, dan sering berakhir dengan kontraktor menanggung biayanya sendiri.

Peralatan, tenaga kerja, dan produktivitas

Peralatan berat dan perkakas berpindah antarproyek, sehingga biayanya perlu dialokasikan: sewa internal per jam atau per hari, biaya bahan bakar, dan perawatan. Pembahasan lebih lengkap tentang jadwal perawatan dan riwayat servis ada di artikel manajemen aset dan perawatan peralatan. Tanpa alokasi, biaya peralatan menumpuk di kantor pusat dan membuat proyek terlihat lebih menguntungkan daripada kenyataannya.

Untuk tenaga kerja, kehadiran dan jam kerja di lokasi proyek dicatat dan dikaitkan dengan pos pekerjaan, sehingga produktivitas dapat dibandingkan dengan rencana. Aplikasi mobile untuk tim lapangan memudahkan pelaksana mencatat kehadiran, progres harian, dan foto pekerjaan dari lokasi, bahkan ketika sinyal lemah, selama aplikasinya dirancang untuk bekerja secara offline.

Dua orang meninjau dokumen kertas di atas meja
Tinjauan progres dan dokumen kontrak rutin mencegah sengketa di akhir proyek.

Dokumen proyek dan jejak persetujuan

Proyek konstruksi menghasilkan banyak dokumen: kontrak, gambar kerja, berita acara, surat perintah kerja, hasil uji material, dan korespondensi. Dokumen yang tersimpan di komputer pribadi sulit ditelusuri saat terjadi sengketa atau audit. Hubungkan dokumen dengan proyek dan transaksi terkait, seperti dijelaskan dalam artikel manajemen dokumen dan arsip digital, dan catat siapa menyetujui apa serta kapan sebagai bagian dari jejak audit dan pengendalian internal.

Arus kas proyek

Kontraktor sering mengalami masalah arus kas bahkan ketika proyek menguntungkan di atas kertas. Pengeluaran untuk material dan upah terjadi lebih dulu, sementara pembayaran dari pemilik proyek datang kemudian dan sebagian ditahan sebagai retensi. Proyeksi arus kas per proyek dan gabungan antarproyek membantu manajemen melihat kapan kas akan tertekan, sehingga negosiasi termin, penjadwalan pembelian, dan pembiayaan dapat disiapkan lebih awal. Konsep dasarnya sejalan dengan visibilitas arus kas dengan ERP.

Langkah menerapkan ERP di perusahaan konstruksi

  1. 01Petakan struktur pos pekerjaan yang dipakai dan seragamkan format RAB antarproyek sejauh mungkin
  2. 02Mulai dari modul biaya proyek dan pembelian pada satu atau dua proyek baru, bukan proyek yang sudah setengah jalan
  3. 03Tetapkan siapa yang mencatat apa di lapangan, dan siapkan alat yang mudah dipakai pelaksana
  4. 04Tambahkan modul subkontraktor, retensi, dan penagihan berdasarkan progres setelah alur dasar stabil
  5. 05Hubungkan peralatan, tenaga kerja, dan dokumen setelah itu
  6. 06Tinjau laporan biaya proyek bersama kepala proyek setiap bulan, dan sesuaikan struktur berdasarkan temuan

Proyek yang sedang berjalan biasanya tidak perlu dipindahkan seluruhnya ke sistem baru. Sering lebih aman memasukkan saldo awal per pos pekerjaan lalu mencatat transaksi baru di sistem, sambil menyelesaikan proyek lama dengan cara lama. Untuk perencanaan perpindahan data, lihat juga persiapan migrasi data ke sistem baru.

Kesalahan umum

  • Membuat struktur pos pekerjaan terlalu rinci sehingga tidak ada yang sanggup mencatatnya dengan disiplin
  • Mengabaikan komitmen dan hanya melihat biaya yang sudah ditagih
  • Mengerjakan pekerjaan tambahan sebelum persetujuan tertulis
  • Menunda pencatatan lapangan sampai akhir bulan, sehingga data tidak lagi akurat
  • Memilih sistem yang kuat di akuntansi tetapi sulit dipakai oleh pelaksana lapangan

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah kontraktor kecil perlu ERP? Tidak selalu sejak awal. Jika hanya menangani satu atau dua proyek, spreadsheet yang disiplin masih bisa cukup. Sistem mulai layak ketika jumlah proyek, subkontraktor, dan pemasok membuat biaya sulit dilacak secara manual.

Apakah ERP konstruksi harus berbasis cloud? Tidak harus, tetapi akses dari lokasi proyek biasanya membuat layanan berbasis web atau cloud lebih praktis, asalkan ada mekanisme kerja offline untuk lokasi dengan sinyal lemah.

Berapa lama implementasinya? Bergantung pada cakupan. Modul biaya proyek dan pembelian dasar dapat berjalan lebih dulu pada proyek baru, sementara modul lanjutan menyusul setelah tim terbiasa.

Siapa yang harus terlibat? Kepala proyek, pelaksana lapangan, pembelian, keuangan, dan manajemen. Sistem yang hanya dirancang oleh bagian keuangan sering gagal dipakai di lapangan.

Kesimpulan

ERP untuk konstruksi bukan sekadar akuntansi dengan label proyek. Nilainya terletak pada kemampuan melihat anggaran, komitmen, biaya aktual, dan progres secara berdampingan, sehingga keputusan dapat diambil selagi proyek masih bisa diperbaiki. Dengan struktur biaya yang disiplin, alur subkontraktor dan penagihan yang jelas, serta pencatatan lapangan yang mudah, kontraktor dapat mengurangi kejutan biaya dan memperbaiki arus kas. Mulailah dari modul biaya dan pembelian pada proyek baru, pelajari hasilnya, lalu perluas secara bertahap.

Butuh sistem biaya proyek untuk perusahaan konstruksi Anda?

Tim AG·SORA membantu merancang ERP dan aplikasi lapangan yang sesuai cara kerja kontraktor, dari biaya proyek hingga penagihan progres. Konsultasi awal gratis dan tanpa kewajiban.

Konsultasi Gratis

Checklist gratis: memilih software house

24 poin untuk menilai calon vendor sebelum menandatangani kontrak. Bisa disimpan sebagai PDF.

Ambil checklist

Siap membangun sistem yang tumbuh bersama bisnis Anda?

Diskusikan kebutuhan Anda dengan tim AG·SORA, tanpa biaya, tanpa komitmen.